Sabtu, 11 Februari 2012

LAGU-LAGU PRAMUKA


LAGU-LAGU PRAMUKA

# Do’a
Tuhan beri petunjuk padaku (2x)
Agar beta berbuat baik setiap waktu
Tuhan beri petunjuk padaku
Ku tahu Tuhan pasti buka jalan (2x)
Agar cita-citaku kan tercapai selalu
Ku tahu Tuhan pasti buka jalan

# Bentuk Kelompok
Mari berjalan-jalan . . .ooee . . .
Lingkar-lingkar-lingkaran . . .ooee . . .
Mari berjalan-jalan . . .ooee . . .
Lingkar-lingkar-lingkaran . . .ooee . . .
Ayo pegang tangan temanmu
Sambil bergoyang kepala/*kaki
Ayo lepas tangan temanmu
Balik kanan melompat

# Ecalu
Ecalu lema afuda
Afuda lema ecalu
Ecalu lema afuda
Afuda lema ecalu
Zum gale gale gale zum gale gale gale zum gale gale zum


# Barisan Kita
Barisan kita . . Gerakan Praja Muda Karana
Barisan Kita . . Putra-putri Indonesia
Bendera Kita . . Tunas kelapa itulah lambangnya
Di bawah naungan, Sang Merah Putih jaya

#O a i ye
Kalau ingin awet muda
Masuk saja di pramuka
Kalau ingin bergembira
Masuk saja di siaga
O a i ye ye ye . . . O a i yo yo yo . . . O a i ye a i yo (2x)

# Jari
Ini namanya jari apa? Ini namanya  jari jempol
Apa kata jari jempol sayang, kalau belajar jangan ngobrol
Ini namanya jari apa? Ini namanya  jari telunjuk
Apa kata jari telunjuk sayang, kalau belajar jangan ngantuk
Ini namanya jari apa? Ini namanya  jari tengah
Apa kata jari tengah sayang, kalau belajar jangan lengah
Ini namanya jari apa? Ini namanya  jari manis
Apa kata jari manis sayang, kalau belajar jangan manis
Ini namanya jari apa? Ini namanya  jari kelingking
Apa kata jari kelingking sayang, kalau belajar jangan pusing



# Bertemu lagi
Di sinilah di sini kita bertemu lagi (2x)
Salam salam salam salam salam haiiii . . .
Di sanalah di sana kita akan berjumpa (2x)
Salam salam salam salam salam haiiii . . .
Di situlah di situ kita akan bertemu (2x)
Salam salam salam salam salam haiiii . . .

# Api Unggun
Oaio . . . Oaio . . .
Api Unggun berkobar
Oaio . . . Oaio . . .
Pramuka Riang dan Sabar
            Bila Hari sudahlah petang
            Tenang di hati datang
            Waktu berapi unggun tiba
            Saat bersuka ria
Kita duduk berlingkar-lingkaran
Tak  ada mula akhirnya
Lingkaran persaudaraan
Kita kuar eratkan
Oaio . . . Oaio . . .

# Berkemah
Di tengah-tengah hutan
Di bawah langit biru
Tenda dipasang, ditiup sang bayu
Api menjilat-jilat
Terangi rimba raya
Membawa khayalku dalam impian
            Dengarlah-dengarlah sayup-sayup
            Suara nan merdu memecah malam
            Jauhlah dari kampung, turuti kata hati
            Guna bakti pada ibu pertiwi
#

Valentine HARAM


Valentine HARAM

Menjelang Hari Kasih Sayang atau Hari Valentine yang di peringati setiap tanggal 14 Februari, banyak sekali orang-orang terutama para muda-mudi yang mempunyai pasangan mempersiapkan jauh-jauh hari event apa yang akan dilakukan pada saat peringatan hari Valentine itu, yang konon untuk mengungkapkan rasa sayang mereka terhadap pasangannya. Media massa baik cetak maupun elektronik terus mengekspos perayaan hari valentine, pusat perbelanjaan sibuk mendekor agar sesuai dengan tema hari kasih sayang. Warna pink menghiasi setiap sudut pusat perbelanjaan dan tak lupa coklat selalu hadir menyemarakan hari kasih sayang ini, sekaligus menjadi simbol kasih sayang di hari valentine.
Kita sebagai umat islam tentu dalam bertindak harus tahu hukum dari tindakan yang akan kita lakukan. Apakah itu Halal? Haram? Sunah? Makruh? atau Mubah?. Lalu bagaimanakah pandangan islam dalam menyikapi Hari Valentine ini? Mari kita simak penjelasan yang semoga memberi pencerahan kepada kita agar kita senantiasa berada di jalan yang diridhoi oleh ALLAH SWT. Amin

Valentine HARAM. Itulah fatwa yang baru saja dilontarkan oleh pihak MUI. Sebenarnya bukan hanya MUI saja, para Ulama diseluruh dunia juga sepakat Valentine adalah haram dan merayakannya adalah perbuatan menodai agama dan berdosa.
Kenapa Valentine diharamkan ? kita coba tilik dari segi sejarah dan fungsi dari valentine ini.
Dari namanya saja, perayaan Hari Kasih Sayang ini serasa memiliki perpaduan sebuah tradisi yang bernuansa Kristiani dan Roma kuno. Ada beberapa versi mengenai legenda dari sosok Valentine ini.
1. Dahulu, seorang pemimpin agama Katolik bernama Valentine bersama rekannya Santo Marius secara diam-diam menentang pemerintahan Kaisar Claudius II (268 – 270 M). kala itu. Pasalnya, kaisar tersebut menganggap bahwa seorang pemuda yang belum berkeluarga akan lebih baik performanya ketika berperang. Ia melarang para pemuda untuk menikah demi menciptakan prajurit perang yang potensial. Valentine tidak setuju dengan peraturan tersebut. Ia secara diam-diam tetap menikahkan setiap pasangan muda yang berniat untuk mengikat janji dalam sebuah perkawinan. Hal ini dilakukannya secara rahasia. Lambat laun, aksi yang dilakukan oleh Valentine pun tercium oleh Claudius II. Valentine harus menanggung perbuatannya. Ia dijatuhi hukuman mati pada tanggal 14 Februari 270 M. Ada sebuah sumber yang menceritakan bahwa ia mati karena menolong orang-orang Kristen melarikan diri dari penjara akibat penganiayaan. Dalam legenda ini, Valentine didapati jatuh hati kepada anak gadis seorang sipir, penjaga penjara. Gadis yang dikasihinya senantiasa setia untuk menjenguk Valentine di penjara kala itu. Tragisnya, sebelum ajal tiba bagi Valentine, ia meninggalkan pesan dalam sebuah surat untuknya. Ada tiga buah kata yang tertulis sebagai tanda tangannya di akhir surat dan menjadi populer hingga saat ini—-‘From Your Valentine. Ekspresi dari perwujudan cinta Valentine terhadap gadis yag dicintainya itu masih terus digunakan oleh orang-orang masa kini. Akhirnya, sekitar 200 tahun sesudah itu, Paus Gelasius meresmikan tanggal 14 Febuari tahun 496 sesudah Masehi sebagai hari untuk memperingati Santo Valentine.
2. Valentine dimulai pada zaman Roma kuno tanggal 14 Febuari. Ini merupakan hari raya untuk memperingati Dewi Juno. Ia merupakan ratu dari segala dewa dan dewi kepercayaan bangsa Roma. Orang Romawi pun mengakui kalau dewi ini merupakan dewi bagi kaum perempuan dan perkawinan. Dan sehari setelahnya yaitu tanggal 15 Februari merupakan perayaan Lupercalia.
 3. Ketika agama nashrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “Dengan nama Tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.” Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat “Dengan nama Tuhan Ibu” dengan kalimat “Dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nashrani.
 4. St.Valentine ditanya tentang Atharid, Tuhan perdagangan, kefasihan, makar dan pencurian, dan Jupiter, Tuhan orang Romawi yang terbesar. Maka dia menjawab Tuhan-Tuhan tersebut buatan manusia dan bahwasanya Tuhan yang sesungguhnya adalah Isa Al Masih. Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya merupakan lambang Tuhan cinta bagi orang-orang Romawi.
5. Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga “martir” atau santo (orang suci) yang berbeda:
seorang pastur di Roma
seorang uskup Interamna (modern Terni)
seorang “martir” di provinsi Romawi Africa.
Koneksi antara ketiga ““martir”” ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai “martir”-”martir” ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari. 
Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara keagamaan’ tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani(Kristian), pesta ‘supercalis’ kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’ pada tanggal 14 Februari. 
Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang ‘martyr’ bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya (jauh dari arti yang sebenarnya). 
Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat(melalui) greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado(bertukar-tukar memberi hadiah) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.

IKUT MENGAKUI YESUS SEBAGAI TUHAN

Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine Day adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak terlalu dipusingkan mereka. “Ah, aku kan ngerayaain Valentine buat fun-fun aja…, ” demikian banyak remaja Islam bersikap. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?
 Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan lain sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau tidak, ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani tersebut, apa pun alasanya. 
Nah, jika ada seorang Muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine, maka diakuinya atau tidak, ia juga ikut-ikutan menerima pandangan yang mengatakan bahwa “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan sebagainya yang di dalam Islam sesungguhnya sudah termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah SWT, suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Naudzubillahi min dzalik!
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ” Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata,
“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah.
Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah. ”
Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” QS. 5 Maa'idah:51
Wallahu’alam bishawab.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment(hal/saat/waktu) ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merusak ‘akidah’ muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup Non Islami dengan kedok percintaan(bertopengkan percintaan), perjodohan dan kasih sayang.

Kampanye anti valentine day

Atas dasar fakta diatas dan diatas landasan niat untuk membentengi akhlak generasi muda kita maka sudah sewajarnya setiap ummat Islam mengambil peran penting untuk turut mengkampanyekan gerakan anti valentine day dan secara khusus menyerukan kepada pemuda pemudi Islam untuk tidak terlibat dalam acara kasih sayang dan percintaan ala valentine’s day.
Di sejumlah negara Islam belakangan ini muncul gerakan terbuka untuk menolak peringatan valentine day, di Mesir beberapa kalangan ummat Islam menyerukan untuk merubah Valentine’s Day dengan Muhammad Day. Seruan ini disampaikan di sejumlah situs internet baik website maupun blog. Mereka menyerukan pembenahan pemahaman cinta dengan pemahaman yang benar sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Seruan ‘Muhammad Day’ ini juga disebarkan secara meluas melalui pesan elektronik (e-mail) dan pesan singkat ponsel (sms). Gagasan Muhammad Day semata – mata bertujuan sebagai gerakan insidental kampanye anti valentine day yang otomatis tidak diagendakan untuk dilakukan setiap tahun.
Siapapun bisa menjadi bagian dari gerakan anti valentine day dengan menyebarkan pernyataan singkat dibawah ini melalui pesan singkat (sms) :
“Stop kemaksitan dan kekufuran berjubah valentine day, mari kita benahi pemahaman tentang cinta dan kasih sayang yang benar sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW”.
Akhirnya, berdasar fakta negatif dan nuansa kemaksitan dan kekufuran yang terselubung dan merebak melalui peringatan hari valentine maka marilah kita secara bersama -sama satukan tekad “HAPUSKAN VALENTINE’S DAY SEKARANG JUGA !!!”

Hukum Merayakan Hari Valentine 

Saat ini banyak ABG muslimah yg terkena penyakit ikut-ikutan dan mengekor pada budaya Barat atau nashrani akibat pengaruh TV dan media massa lainnya. Termasuk pula dalam hal ini perayaan Hari Valentine yg pada dasarnya adl mengenang kembali pendeta St. Valentine.
Keinginan utk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yg diikuti berbeda dgn kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah ibadah syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasululllah SAW. Telah melarang utk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam “Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut”.
Bila dalam merayakannya bermaksud utk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yg besar. Ibnul Qayyim berkata “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yg khusus bagi mereka telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka dgn mengucapkan “Selamat hari raya ! ” dan semisalnya.
Bagi yg mengucapkannya kalaupun tidak sampai pada kekafiran paling itu itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yg menyembah salib. Bahkan perbuatan tersebut lbh besar dosanya di sisi Allah dan lbh dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.
Banyak orang yg kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yg memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat bid’ah ataui kekufuran maka ia telah menyiapkan diri utk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah”.
Abu Waqid ra. meriwayatkan Rasulullah SAW. Saat keluar menuju perang Khaibar beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang Musyrik yg disebut dgn Dzaatu Anwaath biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah SAW. berkata “Wahai Rasulullah buatkan utk kami Dzaatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath .”
Maka Rasulullah SAW. bersabda “Maha Suci Allah ini seperti yg diucapkan kaum Nabi Musa ‘Buatkan utk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan’ Demi Dzat yg jiwaku di tangan-Nya sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yg ada sebelum kalian .” .
Adalah wajib bagi tiap orang yg mengucapkan dua kalimat syahadat utk melaksanakan wala’ dan bara’ yg merupakan dasar akidah yg dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci orang-orang kafir memusuhi dan menyelisihi mereka. Serta mengetahui bahwa sikap seperti ini didalamnya terdapat kemaslahatan yg tidak terhingga sebaliknya gaya hidup yg menyerupai orang kafir justru mengandung kerusakan yg lbh banyak.
Lain dari itu mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang lagi pula menyerupai kaum kafir dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah SWT telah berfirman yg artinya “
Hai orang-orang yg beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan nashrani menjadi pemimpin-pemimpin ; sebahagian mereka adl pemimpin bagi sebahagian yg lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yg zalim.”
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yg beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dgn orang-orang yg menentang Allah dan Rasul-Nya.”
 “Dan janganlah belas kasihan kepada kedua pezina tersebut mencegah kamu utk agama Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat.”
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah; ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah. Tidak ada suatu bid’ah pun yg dihidupkan kecuali saat itu ada suatu sunnah yg ditinggalkan. Dampak buruk lainnya bahwa dgn mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka mendukung dan mengikuti agama mereka padahal seorang muslim dalam tiap raka’at shalatnya membaca
“Tunjukilah kami jalan yg lurus jalan orang-orang yg telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan mereka yg dimurkai dan bukan mereka yg sesat.” .
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yg mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yg sesat dan dimurkai namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dgn sukarela.
Ada seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yg memperingatinya. Ini adl suatu kelalaian padahal sekali lagi perayaan ini adl dari ritual agama lain !
Hadiah yg diberikan sebagai ungkapan cinta adl sesuatu yg baik namun bila dikaitkan dgn pesta-pesta Kristiani dan tradisi-tradisi Barat akan mengakibatkan terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.
Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yg sepele tetapi lbh mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yg tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.
Alhamdulillah kita mempunyai pengganti yg jauh lbh baik dari itu semua sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Diantaranya bahwa dalam pandangan kita seorang ibu mempunyai kedudukan yg agung kita bisa mempersembahkan ini kepadanya dari waktu ke waktu demikian pula utk ayah saudara suami? dst tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yg dirayakan oleh orang-orang kafir.
Semoga Allah senantiasa menjadikan hidup kita penuh dgn kecintaan dan kasih sayang yg tulus yg menjadi jembatan utk masuk ke dalam sorga yg hamparannya seluas langit dan bumi yg disediakan bagi orang-orang yg bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golonga orang-orang yg disebutkan
“Kecintaan-Ku adl bagi mereka yg saling mencintai krn Aku yg saling mengunjungi krn Aku dan yg saling berkorban krn Aku”

Referensi :
muzakarah.tripod.com/valentine1.html
isrona.wordpress.com/2007/02/18/sejarah-hari-valentine/
www. eramuslim.com
update :
Maaf, kalo ini juga “sangat” telat, sebenarnya hukum tersebut diatas (kufur/murtad) apabila merasa senang (mail) pada agamanya, atau bermaksud menyerupai mereka dalam syiar kekufuran, maka hukumnya kafir. Kalau menyerupai dalam syariat hari rayanya (seperti fatwa MUI) hukumnya haram, dan bila hanya ketepatan saja hukumnya makruh.
Rujukan :
Alfatawie al-Kubro 4 hal. 238-239
Bughyatul Musytarsyidien 284
Al amru bil-ittiba’ 48
Mughnil Muhtaj 3 hal 26
Postingan ini sebenarnya bukan untuk menyudutkan agama lain atau merendahkannya, cuma “mengingatkan” saudara saya se-Iman agar tidak terpengaruh budaya yang bertentangan dengan syariat Islam. Jadi kalau ada suadara non-muslim yang merasa terganggu dengan postingan ini mohon maaf ( kalau “menyinggung” perasaan )
Sumber : www.islamterbuktibenar.NET (dengan perubahan seperlunya)

Kamis, 12 Januari 2012

POLA PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH



POLA PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
 Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengampu : Dra. Sri Sami Asih, M.Kes.


Disusun Oleh:
Satoto                                    1401410187
Eka Fibriani                         1401410188
Rahayu                                 1401410189
Eka Listyowati                     1401410194
Abdul Malik                         1401410197
Dias Septi Indriani               1401410202
KELAS 3B FRESH


PGSD UPP TEGAL
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
            Makalah yang berjudul “Pola Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah “ disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling PGSD UPP Tegal Universitas Negeri Semarang.
            Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih ada kekurangan. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Untuk itulah, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat penulis harapkan, demi kesempurnaan karya tulis ini.
            Terlepas dari kekurangan-kekurangan, penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi pembaca.



                                                                                        Tegal, 17 Oktober 2011

                                          Penulis






DAFTAR ISI

JUDUL ..................................................................................................         i
KATA PENGANTAR ...........................................................................       ii
DAFTAR ISI .........................................................................................        iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................      1
A.    Latar Belakang .....................................................................        1
B.     Rumusan Masalah ................................................................        1
C.     Tujuan ..................................................................................        2
D.    Manfaat ................................................................................        2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................      3
A.    Model-model Bimbingan dan Konseling
dan Pola Dasar Bimbingan ........................................................  3
            B. Pola–pola Bimbingan dan Konseling..........................................   12
            C. Pendekatan atau Strategi Dasar    ...............................................  18
            D. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling .................................   19
BAB III PENUTUP ......... ........................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................  23




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam aktivitas di sekolah, siswa memerlukan bimbingan bukan hanya sekedar pembelajaran. Rekan siswa untuk menjadi pembimbing yang paling baik dan efektif adalah guru kelas. Namun tentu saja untuk mendapatkan hasil siswa yang di bimbing dengan benar. Guru mata pelajaran harus mempunyai pengetahuan tentang pola pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Ini dimaksudkan untuk dapat membimbing anak kearah yang lebih optimal dan tidak sembarangan.
Dengan adanya bab mengenai pola pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah ini. Mahasiswa jadi benar-benar paham cara memposisikan diri dalam bimbingan di sekolah pada anak didiknya kelak. Matakuliah ini dimaksudkan membekali mahasiswa sebagai calon guru sekolah dasar untuk mampu menyelenggarakan pembelajaran yang membimbing dan memberikan pelayanan dasar-dasar bimbingan sesuai dengan kewenanganya. Sehingga untuk menunjang pembekalan untuk mahasiswa itu. Pembahasan dilakukan tentang model-model bimbingan dan konseling, pola dasar bimbingan, dan pendekatan atau strategi dasar.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Model-model bimbingan dan konseling apa yang baik untuk bekal mahasiswa nantinya ?
2. Pola dasar bimbingan apakah yang efektif untuk mahasiswa pelajari ?
3. Apa sajakah pola-pola bimbingan yang baik untuk pelayanan bimbingan di institusi pendidikan ?
4. Apa saja pendekatan dan strategi dasar guna pembekalan bagi mahasiswa ?

C.    Tujuan
Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui model-model bimbingan dan konseling dan pola dasar bimbingan.
2.      Mengetahui pola-pola bimbingan.
3.      Mengetahui pendekatan atau strategi dasar.

D.    Manfaat
Penulis berharap dengan penyusunan makalah ini, pembaca dapat mengetahui pola pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah sehingga layanan bimbingan dan konseling dapat terlaksana dengan baik dan tujuan dari bimbingan dan konseling itu ssendiri dapat tercapai.


BAB II
PEMBAHASAN

POLA PELAYANAN BIMBINGAN DANKONSELING DI SEKOLAH

A. Model-model Bimbingan dan Konseling dan Pola Dasar Bimbingan
            Pelayanan Bimbingan Konseling di lembaga pendidikan formal diselenggarakan dalam rangka suatu program bimbingan yaitu suatu rangkaian kegiatan bimbingan yang terencana, terorganisir dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu. Suatu program bimbingan dddann konseling dapat disusun dengan berdasarkan pada suatu kerangka berfikir dan pola dasar pelaksanaan tertentu. Model-model bimbingan dan konseling dan pola dasar bimbingan bermula dari gerakan bimbingan dan konseling di Amerika yang dikembangkan di sejumlah kerangka pikir yang menjadi pedoman dan pegangan dalam pelayanan di sekolah-sekolah. Istilah Model menurut Shertzer dan Stone (1981) yaitu suatu konseptualisasi yang luas, bersifat teoritis namun belum memenuhi semua persyaratan bagi suatu teori ilmiah. Metode-metode itu dikembangkan oleh orang tertentu untuk menghadapi tantangan yang timbul dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan pendidikan sekolah di AS.
1. Frank Parsons menciptakan istilah Vocational Guidance yang menekankan ragam jabatan bimbingan dengan menganalisis diri sendiri, analisis terhadap bidang pekerjaan, serta memadukan keduanya dengan berfikir rasional dan mengutamakan komponen bimbingan pengumpulan data serta wawancara konseling. Menurut pandangan Parsons, baik individu maupun masyarakat akan mendapatkan keuntungan, jika terdapat kecocokan antara cirri-ciri kepribadian seseorang dan seluruh tuntutan bidang pekerjaan yang dipegang oleh orang itu. Tiga faktor utama dianggap sangat menentukan dalam memilih suatu bidang pekerjaan, yaitu analisis pada diri sendiri (kemampuan dan bakat, minat, serta temperamen), analisis terhadap pekerjaan (kesempatan, tuntutan, dan prospek masa depan), serta perbandingan antara hasil kedua analisis tadi untuk menemukan kecocokan antara data tentang diri sendiri dan data tentang bidang-bidang pekerjaan (mengadakan matching dengan berpikir rasional). Mengingat banyak orang muda akan mengalami kesulitan dalam meninjau ketiga factor utama itu, maka mereka membutuhkan dari seseorang yang lebih berpengetahuan dan lebih berpengalaman dalam hal ini. meskipun pandangan Frank Parson menunjukkan unsure kelemahan, misalnya kurang diperhitungkan pengaruh motivasi, nilai-nilai kehidupan dan lapisan social ekonomis, namun tekanan dalam penekanan diri dan pelayanan dari seorang ahli dalam bimbingan jabatan merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan pelayanan bimbingan selanjutnya. Dengan demikian, model ini menekankan ragam bimbingan, jabatan, dan mengutamakan komponen bimbingan pengumpulan data serta wawancara konseling.
2. William M. Proctor, (1925) mengembangkan model bimbingan mengenalkan dua fungsi yaitu fungsi penyaluran dan fungsi penyesuaian menyangkut bantuan yang diberikan kepada siswa dalam memilih program studi, aktivitas ekstra-kurikuler, bentuk rekreasi, jalur persiapan memegang sesuai dengan kemampuan, bakat, minat dan cita-cita siswa. Fungsi penyesuaian menyangkut bantuan yang diberikan siswa dalam melaksanakan secara konsisten dan konsekuen pilihan yang telah mereka buat, seandainya timbul kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan beraneka tuntutan dalam lingkungan atau dalam bidang kehidupan tertentu. Dengan demikian, model ini menekankan sifat bimbingan perseveratif, yang mendampingi siswa dalam perkembangannya yang sedang berlangsung, dan mengutamakan bimbingan pengumpulan data, wanwancara konseling. Namun, kelemahan model ini terletak dalam pandangan, bahwa pelayanan bimbingan hanya perlu diberikan pada saat siswa menghadapi masalah.
3. John M. Brewer, (1932) mengembangkan ragam bimbingan seperti bimbingan belajar, bimbingan rekreasi, kesehatan, bimbingan miral dan perkembangan. menerbitkan buku Educational as Guidance berpendapat bahwa tugas pendidikan sekolah adalah mempersiapkan siswa untuk mengatur bidang kehidupan sedemikian rupa, sehingga bermakna dan memberikan kepuasan, seperti bidang kesehatan, bidang kehidupan keluarga, bidang pekerjaa, bidang rekreasi, bidang perluasan pengetahuan dan bidang kehidupan bermasyarakat. Pendidian dan bimbingan dianggap tidak jauh berbeda, karena keduanya berfungsi sebagai bantuan kepada generasi muda dalam belajar seni hidup sebagai pribadi dan anggota masyarakat. Melalui berbagai kegiatan pendidikan dan bimbingan siswa memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan yang diperlukan mengatur kehidupannya sendiri dalam berbagai aspeknya, model ini menekankan ragamnya bimbingan yang diberikan, seperti bimbingan belajar, bimbingan rekreasi, kesehatan, moral dan bimbingan perkembangan; maka tidak hanya mengenal ragam bimbingan jabatan. Komponen pembirian informasi dan wawancara konseling diutamakan. Namun, kelemahan model ini terletak dalam pandangan bahwa pendidikan dan bimbingan tidak jauh berbeda fungsinya; dan bahwa pelayanan bimbingan untuk sebagian besar dituangkan dalam bentuk suatu pelayanan yang berkisar pada materi pelayanan seperti berlaku pada segala bidang studi akademik.
4. Donal G. Patterson, (1938) mengembangan metode klinis (clinical method). Metode ini menekankan perlunya menggunakan teknik ilmiah untuk mengenal konseli dengan lebih baik dan menentukan segala problem yang dihadapi oleh konseli, misalnya dengan menggungakan tes psikologis dan studi diagnostic. Yang dibutuhkan ialah data obyektif, yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan memberikan gambaran tentang konseli, lepas dari pandangan konseli tentang diri sendiri. Model ini sebenarnya menyangkut satu komponen dalam program bimbingan saja yaitu konseling. Layanan konseling hanya dipegang oleh tenaga bimbingan yang ahli dalam menggunakan teknik analisis ilmiah, terutama tes psikologis. Konselor bertanggungjawab penuh atas pilihan alat-alat diagnostic yang menghasilkan data bagi konseli tentang dirinya sendiri. Model ini menekankan bentuk bimbingan perseceratif, serta memberikan tekanan pada komponen bimbingan penempatan, pengumpulan data, dan wawancara konseling. Kelemahan model ini terletak pada pelayanan bimbingan cenderung dibatasi pada saat tertentu saja dan diberikan kepada siswa-siswi tertentu, yaitu mereka yang menghadapi suatu masalah berat dan akan menghadap konselor sekolah.
5. Wilson Little dan AL. Champman, (1955) mengembangkan bimbingan yang dikenal dengan nama bimbingan perkembangan (development guidance). Model ini menekankan perlunya memberikan bantuan kepada semua siswa dalam aspek perkembangan siswa dalam bidang studi akademik dalam mempersiapkan diri memangku suatu jabatan dan dalam mengolah pengalaman batin serta pergaulan sosial. Model ini memanfaatkan bentuk pelayanan individual dan kelompok, mengutamakan sifat bimbingan preventif dan preserveratif dan melayani bimbingan belajar, jabatan dan bimbingan pribadi. Maka, focus perhatian terpusat pada perkembangan optimal dari peserta didik yang sedang menuju kekedewasaan. Perkembangan yang optimal itu dapat dicapai bila siswa mengenal diri sendiri, menghayati seperangkat nilai kehidupan, menyadari keadaan nyata dalam lingkungan hidupnya. Namun kemandirian pribadi dan kemampuan untuk menimbang kondisi kehidupan dalam lingkup lingkungan kongkrit tetap diutamakan, dengan menerima kemungkinan orang muda dapat berubah selama proses perkembangannya. Model ini memanfaatkan bentuk pelayanan individu dan kelompok, mengutamakan sifat bimbingan preventif dan perseveratif, serta melayani siswa melalui bimbingan belajar, bimbingan jabatan, dan bimbingan pribadi. Keunggulan model ini ialah sumbangan dalam pelayanan bimbingan yang diberikan oleh semua tenaga pendidik yang bekerja sama sebagai tim yang melakukan sejumlah kegiatan bimbingan yang dirancang untuk menunjang perkembangan optimal dari semua siswa dalam kurun waktu yang sama. Kelemahan model ini terletak dalam kenyataan, bahwa tidak semua anggota staf pendidik sekolah siap pakai untuk memberikan pelayanan bimbingan. Merencanakan dan melaksanakan program bimbingan yang sedimikian komprehensif dan meresapi seluruh program pendidikan sekolah, menjadi usaha yang sangat kompleks yang melibatkan banyak orang, dalam kenyataan akan sukar dilaksanakan di lapangan.
6. Kenneth B. Hoyt, (1962) yang mendeskripsikan model bimbingan mencakup sejumlah kegiatan bimbingan (constellation) dalam rangka melayani kebutuhan siswa di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Model ini menekankan pelayanan individual dan kelompok dan memungkinkan pelayanan yang bersifat preventif, preserveratif dan remedial dan mengutamakan ragam bimbingan belajar dan pribadi. Dalam pola ini ditekankan pada bahwa tenaga pendidik di sekolah seharusnya berpartisipasi dalam pelaksanaan dalam program bimbingan, bukan hanya tenaga bimbingan atau konselor sekolah saja, bahwa konselor sekolah memikul tanggungjawab utama atas perencanaan dan pelaksanaan program bimbingan, yang tidak hanya meliputi layanan konseling saja. Pelayanan bimbingan berhasil kalau tujuan pelayanan bimbingan terintegrasikan pada tujuan institusional, kurikuler, dan instruksional. Seorang konselor sekolah memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh tenaga-tenaga pendidik yang lain dalam hal :
a) Penggunaan beraneka teknik dan alat untuk memperoleh data yang relevan tentang siswa dan dalam menafsirkan data itu;
b) Penyebaran ingormasi yang relevan dan tepat tentang variasi program studi lanjutan serta variasi bidang pekerjaan;
c) Penggunaan berbagai metode konseling dan aneka teknik konseling;
d) Diagnosis kasus khusus yang menuntut konsultasi dengan seorang ahli lain di luar lingkungan sekolah (referral);
e) Penerapan metode dan teknik khusus untuk bimbingan kelompok;
f) Kemampuan mengadakan riset tentang kebutuhan-kebutuhan siswa dan melakukan studi evaluative tentang keberhasilan program bimbingan. Konselor sekolah melayani para siswa secara langsung (kontak langsung dengan siswa), namun juga melayani rekan tenaga pendidik yang lain sebagai narasumber (konsultan) demi peningkatan mutu dan efektivitas program pendidikan di sekolah. Model ini menekankan pelayanan bimbingan sebagai usaha yang melibatkan semua tenaga pendidik, menurut fungsi dan wewenang masing-masing; mengenal bentuk pelayanan bimbingan individual dan kelompok; memungkinkan pelayanan bimbingan preventif, perseveratif dan remedial; dan mengutamakan bimbingan belajar dan bimbingan pribadi. Keuntungan model ini ialah pelayanan bimbingan tidak hanya terbatas pada layanan konseling dan tanggungjawab untuk menunjang perkembangan siswa serta taraf kesehatan mental tidak hanya dibebankan pada tenaga bimbingan professional saja. Kelemahan terletak dalam anggapan, bahwa bidang bimbingan terutama diperlukan membantu siswa dalam mengatasi beraneka kesulitan belajar dengan demikian tujuan yang khas dari pelayanan bimbingan menjadi agak kabur.
7. Ruth Strabf, (1964) yang berpandangan menyangkut bimbingan melalui wawancara konseling. Eklektis berarti memilih, yaitu memilih diantara teori, metode dan teknik yang dikembangkan sesuai kebutuhan konseli untuk diterapkan dalam mengatasi masalah tertentu. Konselor harus mengetahui keunggulan dan kelemahan dari berbagai teori, metoden dan teknik sehingga dapat menerapkannya secara fleksibel. Model ini menekankan bentuk pelayanan individu dan pelayanan secara kelompok dan mengutamakan komponen bimbingan pengumpulan dan wawancara konseling. Pandangan ini lebih menyangkut pelayanan bimbingan melalui wawancara konseling. Diasumsikan bahwa siswa dan mahasiswa dari waktu kewaktu membutuhkan bantuan professional dalam memahami diri sendiri dalam mengatasi masalah tertentu melalui bantuan itu mereka mendapat informasi tentang diri sendiri dan realitas lingkungan, yang kiranya sulit mereka peroleh dengan cara lain.
8. Arthur J. Jones, (1970) menekankan pelayanan bimbingan sebagai bantuan kepada siswa dalam membuat pilihan-pilihan dan dalam mengadakan penyesuaian diri. Bantuan itu terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut bidang studi akademik dan bidang pekerjaan. Bimbingan adalah intrvensi professional bilamana siswa harus membuat pilihan diantara beraneka alternative program studi dan bidang pekerjaan yang terbuka baginya. Nilai-nilai kehidupan (values) menjadi factor penting dalam membuat pilihan. Pada awal masa pendidikan menengah dan pada akhir masa itu siswa menghadapi saat dia harus membuat setumpuk pilihan (decision making) yang berarti dimasa yang akan datang, petugas bimbingan harus membantu siswa dalam membuat pilihan, dengan mempertimbangkan system nilai yang dianutnya dan mengolah informai yang tersedia tentang diri sendiri serta kesempatan-kesempatan terbuka baginya. Supaya siswa berpikir secara rasional; karena kaum muda kurang mampu mengambil keputusan penting, maka dibutuhkan bantuan seorang ahli bimbingan yang bekerja sebagai tenaga tetap di lembaga pendidikan sekola. Model ini juga menekankan bentuk pelayanan individu mengutamakan ragam bimbingan belajar serta bimbingan jabatan dan memberi tekanan pada komponen bimbingan penempatan pengumpulan data serta wawancara konseling. Kelemahan yang paling mencolok dalam model ini ialah pembatasan pelayanan bimbingan pada saat-saat tertentu saja, bila siswa harus membuat suatu pilihan yang menentukan jalan kehidupannya.
9. Chris D. Kehas, (1970) mengembangkan guidance as personal development. Model ini merumuskan tujuan pendidikan di sekolah, memberikan tekanan pada perkembangan kepribadian peserta didik, tetapi di lapangan hanya aspek intelektual yang diperhatikan. Dengan demikian tenaga-tenaga bimbingan hanyalah berfungsi dalam rangka meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar di kelas. Dengan kata lain, bimbingan adalah usaha yang menunjang bidang pengajaran saja (amcillary service to make instruction more effective). Kehas memperjuangkan supaya pendidikan sekolah dipandang sebagai usaha mendampingi siswa dalam belajar. Belajar tidak hanya mencakup belajar di bidang akademik, tetapi tentand diri sendiri dan lingkungan hidup. tenaga pendidik tidak hanya guru, melainkan masing-masing tenaga pendidik bertugas mendampingi siswa dalam aspek perkembangan dan dimensi belajar tertentu. Dengan demikian, siswa mempunyai relasi dengan pihak tenaga pendidik berbeda-beda sifat, misalnya guru sebagai pendamping dalam belajar akademik, dan tenaga bimbingan sebagai pendamping dalam belajar tentang kepribadiannya sendiri. Konselor sekolah berfokus pada perkembangan kepribadian siswa dalam keseluruhannya (personal development). Maka, tenaga bimbingan bukan berfungsi sebagai asisten tenaga pengajar, melainkan mempunyai peranannya sendiri. Tenaga pendidik tidak berada di bawah yang lain, melainkan saling melengkapi dalam rangka bekerja sama menurut fungsinya masing-masing. Model ini menekankan bentuk, jenis, atau ragam bimbingan tertentu, dan tidak mengutarakan komponen bimbingan tertentu, melainkan mengeksplisitkan fungsi dasar bimbingan di sekolah, yaitu proses membantu orang-perorangan untuk memahami diri sendiri dan lingkungan hidupnya. Keunggulan model ialah menciptakan kemungkinan untuk merumuskan secara spesifik apa peranan guru (tenaga pengajar) dan apa peranan konselor sekolah terhadap belajar siswa. Kelemahan model ini menyangkut hubungan kerja sama antara tenaga pengajar dan tenaga bimbingan yang kerap belum jelas sebaiknya diwujudkan; disamping itu, timbul bahaya bahwa anak didik akan dibelah-belah atas sekian bagian, dimana guru bertanggung jawab atas perkembangan intelektual siswa saja dan konselor sekolah akan bertanggungjawab atas aspek-aspek perkembangan yang lain.
10. Ralp Moser dan Norman A. Srinthall, (1971) mengajukan usul supaya di sekolah diberi pendidikan psikologis yang dirancang untuk menunjang perkembangan kepribadian para siswa dengan mengutamakan belajar dinamik-efektif yang menyangkut kepribadian nilai-nilai hidup dan sikap-sikap. Pelayanan bimbingan tidak hanyadibatasi pada mereka yang menghadap konselor sekolah, tetapi sampai pada semua siswa yang mengikuti pendidikan psikologis. Ini merupakan keunggulan modelnya. Namun, merencanakan dan melaksanakan suatu program kurikuler menuntut konselor menguasai metodik mengembangkan dan mengajarkan suatu bidang, termasuk penentuan tujuan instruksional, mengurutkan topic-topik (sequence), prosedur akan membuat siswa belajar aktif (CBSA), dan pilihan bahan yang relevan. Persyaratan ini kiranya hanya dapat dipenuhi, bila konselor sekolah khusus disiapkan untuk itu melalui pendidikan formal di perguruan tinggi.
11. Julius Menacker, (1976) mengembankan model bimbingan yang mengusahakan penganggulangan segala gejala pemberontakan yang tampak dalalm tingkah laku para siswa di sekolah yang terletak dalam daerah/bagian kumuh di kota besar. Daerah kumuh disini berarti daerah di mana kemiskinan, kejahatan, pelanggaran hukum, kenakalan remaja, dan penggunaan obat bius merajalela. Model ini menekankan usaha mengadakan perubahan dalam lingkungan hidup yang menghambat perkembangan yang optimal bagi siswa. Dalam pelayanan bimbingan tradisional focus perhatian terpusat pada siswa sendiri yang harus mengadakan perubahan dalam diri sendiri, dalam activist guidance focus perhatian terdapat pula pada lingkungan hidup siswa, yaitu bagaimana manipulasi dari lingkungan dapat menguntungkan perkembangan siswa. Maka, konselor sekolah bersama dengan siswa mengidentifikasi segala kondisi hidup negative yang ditimbulkan oleh lingkungan hidup, dan merencankan setumpuk tindakan konkret untuk mengubah lingkungan itu sehingga terciptakan kondisi positif, termasuk mengubah lingkungan sekolah bila hal itu dianggap perlu. Keunggulan model ini ialah pandangan tingkah laku seseorang sebaiknya dilihat sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungan hidupnya. Konselor sekolah yang berpegang pada pola asli memanfaatkan semua sumber dan sarana dalam lingkungan masyarakat setempat, yang dapat mempengaruhi suasana hidup di suatu daerah. Kelemahan model ini ialah kenyataan, bahwa aksi-aksi perubahan social mudah menimbulkan berbagai ketegangan, bahkan pun sampai menciptakan konflik dengan tenaga-tenaga pendidik yang lain, karena lingkungan sekolah itu sendiri tidak akan luput dari aksi demi perubahan suasana dan kurikulum pengajaran.
Model-model berpikir yang diuraikan di atas ternyata belum dioperasionalkan di lapangan dan dituangkan dalam kerangka program bimbingan. Kecuali, model yang dideskripsikan oleh Hoyt, yaitu Constellation of Services. Kenyataan ini berarti bahwa masih terdapat jurang yang lebar antara pemikiran teoritis dan praktek pelaksanaan di lapangan. Alasannya adalah bahwa pelayanan bimbingan di sekolah berkembang menurut kebutuhan setempat, dan baru dibentuk konseptualisasi setelah praktek perkembangan untuk mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan serta memberikan landasan teoritis pada kegiatan-kegiatan bimbingan sudah mulai dilaksanakan. Pemikiran teoretis (theory building) baru menyusul sesudah pelayanan bimbingan mulai berjalan, bahwa pelayanan di lapangan tidak bermakna bagi perkembangan siswa, namun pelayanan bimbingan akan terhambat dalam perkembangannya, dan mendapat banyak sorotan negative karena lemah dalam hal refleksi teoretis.
Kehas berpandangan sejumlah faktor yang menghambat konseptualisasi dan pertanggungjawaban teoretos dari bimbingan di sekolah-sekolah di Amerika yaitu:
1. Organisasi profesional di bidang bimbingan lebih banyak memperhatikan layanan konseling daripada layanan bimbingan pada umumnya.
2. Perbedaan konseptual antara mengajar dan membimbing masih kabur.
3. Pelayanan bimbingan di sekolah lebih dikaitkan dengan bidang administrasi sekolah, sehingga fungsi khas dari bimbingan tinggal samar-samar saja.
4. Pemikirannya teoretis.
5. Terdapat anggapan.
            Dikatakan di Indonesia masih terdapat suatu jurang yang cukup lebar antara praktek pelayanan bimbingan di lembaga sekolah dan pengembangan andalan landasan teoritis, yang sesuai dengan kondisi serta situasi pendidikan sekolah di suatu negara berkembang. Namun, telah diterapkan pola Constellation of Services sebagaimana diuraikan di atas, meskipun pola tidak luput dari berbagai kelemahan dalam konseptualisasi.

B. Pola – pola Bimbingan dan Konseling
            Yang dimaksud dengan pola dasar pelaksanaan bimbingan ialah suatu asas pokok untuk mengatur penyebaran pelayanan bimbingan di sekolah, dengan mempertimbangkan kegiatan-kegiatan bimbingan apa yang akan diadakan dan rangkaian kegiatan itu dilaksankan oleh siapa serta diberikan kepada siapa. Pola dasar ini lebih bersifat praktis, karena langsung berkaitan dengan penyusunan program bimbingan. Jadi suatu pola dasar melandasi perencanaan dan pelaksanaan suatu program bimbingan di sekolah. pola dasar tertentu dapat merupakan konkretisasi yang lebih bersifat praktis dari suatu model atau kerangka berpikir tertentu. Namun, dimungkinkan bahwa suatu pola dasar menampung lebih dari satu model, suatu pola dasar tertentu, sekali mulai diterapkan, mempunyai dampak terhadap pola organisasi dan administrasi kegiatan bimbingan di sekolah. jadi, pola dasar pelaksanaan bimbingan sedikit banyak berdiri di antara model bimbingan dan pola organisatoris bimbingan.
            Model-model bimbingan dan konseling dan pola dasar bimbingan bermula dari gerakan bimbingan dan konseling di Amerika yang dikembangkan di sejumlah kerangka pikir yang menjadi pedoman dan pegangan dalam pelayanan di sekolah-sekolah. Istilah Model menurut Shertzer dan Stone (1981) yaitu suatu konseptualisasi yang luas, bersifat teoritis namun belum memenuhi semua persyaratan bagi suatu teori ilmiah. Model-model itu dikembangkan oleh orang tertentu untuk menghadapi tantangan yang timbul dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan pendidikan sekolah di AS. Menurut hasil analisis Edward C Glanz dalam bukunya Foundations and Principles of Guidance, dalam sejarah perkembangan pelayanan bimbingan di institusi-institusi pendidikan muncul empat macam pola dasar yang diberi nama pola generalis (generalism), pola spesialis ( specialism), pola kulikuler (curuicular design), dan pola relasi-relasi manusiawi serta kesehatan mental (human relations and mental health), yakni :
1. Pola Generalis berasaskan keyakinan, bahwa corak pendidikan dalam suatu institusi pendidikan berpengaruh terhadap kuantitas usaha belajar siswa, dan seluruh staff pendidik dapat menyumbang pada perkembangan kepribadian masing- masing siswa. Pelayanan bimbingan melibatkan banyak tenaga pendidik. Tenaga pengajar rutin berhubungan dengan para siswa. Mereka meyisipkan aneka unsure bimbingan dalam pelajaran, dapat memberikan bimbingan kelompok, bahkan dapat menyelenggarakan wawancara konseling. Terdapat pula guru-konselor, yaitu tenaga pengajar yang sebagian waktunya khusus diperuntukkan bagi pelayanan bimbingan. Koordinasi seluruh kegiatan bimbingan diserahkan pada guru-konselor atau tenaga ahli bimbingan. Sumber tenaga ahli bimbingan anak-anak biasa, seperti Reality Therapy. Ada pendekatan yang dinilai terlalu kompleks untuk kebanyakan siswa dan mahasiswa pada masa sekarang, seperti sistematika yang dikembangkan oleh Carkhuff. Semua teori cenderung menuntut proses konseling yang agak lama sampai lama sekali, padahal proses konseling di suatu institusi pendidikan sulit untuk dibina selama beberapa bulan sampai satu tahun, karena waktu konselor dan konseli terbatas. Beberapa teori lebih mengarah ke Psikoterapi, yang diterapkan terhadap orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental yang serius, seperti Psikoanalisis dan Psikologi Individual. Pembahasan mengikuti atas tiga kelompok pendekatan, yaitu pendekatan afektif, pendekatan kognitif dan pendekatan behavioristik, yakni :
Pendekatan Afektif
Psikoanalisis (Psychoanalysis) bersumber pada sederetan pandangan Sigmund Freud dalam abad 20. Sesuai dengan perkembangan ilmu psikologi, para ahli memodifikasi menjadi Noe-Freudians, antara lain Carl Jung, Otto Rank, Wilhelm Reich, Karen Horney, Theodore Reih dan Harry Stack Sullivan. Terapi psikoanalitis membantu individu untuk mengatasi ketegangan psikis bersumber rasa cemas dan rasa terancam yang berlebihan (anxiety). Perasaan terpendam terhadap orang tertentu serta segala konflik yang dialami dalam berkomunikasi dengan pihak/orang itu, selama proses terapi dihidupkan kembali dan dilimpahkan pada konselor sebagai wakil dari pihak/orang itu (transference). Perasaan, pertentangan dan konflik yang sengaja ditimbulkan itu, kemudian diolah kembali dalam kehidupannya sampai sekarang. Kesadaran ini memungkinkan suatu perubahan keadaan dalam batin konseli dan dalam cara mengatur kehidupannya sendiri
1.1 Psikologi Individual
Aliran Psikologi Individual (Individual Psychology) dipelopori Alfred Adler dan dikembangkan sebagai sistematika terapi Rudolf Dreikurs dan Donald Dinkmeyer, dikenal dengan Adlerian Conselling. Perhatian utama diberikan pada kebutuhan seorang untuk menempatkan diri dalam kelompol sosialnya. Tiga konsep corak terapi ini adalah rasa rendah diri (inferiority feeling), usaha untuk mencapai keunggulan (striving for superiority), dan gaya hidup perseorangan (a person’s lifestyle). Manusia kerap mengalami rendah diri karena berbagai kelamahan dan kekurangan yang mereka alami, dan berusaha untuk menghilangkan ketidakseimbangan dalam diri sendiri melalui aneka usaha mencapai kompensasi terhadap rasa rendah diri, dengan mengejar kesempurnaan dan keunggulan dalam satu atau beberapa hal. Dengan demikian, manusia bermotivasi untuk menguasai siatusi hidupnya, sehingga puas dapat menunjukkan keunggulannya, paling sedikit dalam bayangannya sendiri. Selama proses terapi konselor mengumpulkan informasi kehidupan konseli di masa sekarang dan di masa lampau. Dari semua informasi konselor menggali perasaan rendah diri pada konseli yang bertahan sampai sekarang dan menemukan segala usahanya menutupi perasaannya melalui kompensasi, sehingga mulai tampak gaya hidup perseorangan. Selanjutnya konselor membantu konseli mengembangkan tujuan lebih membahagiakan dan merancang gaya hidup yang lebih konstruktif.


1.2 Terapi Gestalt
Terapi Gestalt (Gestalt Therapy) dikembangkan Frederick Perls. Konselor membantu konseli menghayati diri sendiri dalam situasi kehidupannya yang sekarang dan menyadari halangan yang diciptakan sendiri untuk merasakan serta meresapi makna dari konstelasi pengalaman hidup. keempat konsep pokok adalah penghayatan diri sendiri dalam situasi hidup yang konkret (awareness), tanggungjawab perseorangan (personal responsibility), keutuhan dan kebulatan kepribadian seseorang (unity of the person), dan penyadaran akan berbagai halangan yang menghambat penghayatan diri sendiri (blocked awareness). Konseli mengusahakan keterpaduan dan integrasi dari berpikir, berperasaan, dan berperilaku, yang mencakup semua pengalaman nyata pada saat sekarang. Konseli tidak boleh berbicara saja tentang kesulitan dan kesukaran yang dihadapi. Maka, konselor mendesak konseli menggali macam-macam perasaan yang belum terungkap secara jujur dan terbuka, seperti rasa jengkel, sakit hati, rasa dukacita dan sedih, rasa bersalah, rasa berdosa, kesal, atau diasingkan. Dengan bantuan konselor, konseli lalu mulai membuka jalan buntu dengan meninggalkan berbagai siasat mendapatkan simpati orang lain, dan mulai mengambil peranan lebih aktif mengatur kehidupannya sendiri. Terapi Gestalt membuat konseli merasa frustasi (berada di jalan buntu), tetapi frustasi itu dipandang sebagai landasan bagi usaha baru yang lebih konstruktif. Dengan kata lain, mengakui kegagalan dalam diri sendiri adalah cermin bagi diri sendiri pula.
1.3 Konseling Eksistensial
Aliran konseling Eksistensial (Existential Counseling) menenkankan implikasi dari falsafah hidup dalam menghayati makna kehidupan manusia di dunia yang mencakup kemampuan kesadaran diri; kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib hidupnya sendiri; tanggungjawab pribadi; kecemasan sebagai unsure dasar dalam kehidupan batin; usaha untuk menemukan makna dari kehidupan manusia; keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain; kematian; serta kecenderungan dasar mengembangkan dirinya semaksimal mungkin. Konseli akan belajar dari konselor, yang mengkomunikasikan sikap hidup penuh rasa dedikasi terhadap tuntutan hidup sebagai tanggungjawab pribadi. Konseli diharapkan mampu mengatasi beraneka kesulitan dan bermacam tantantang dengan menempatkannya dalam kerangka sikap mendasar terhadap kehidupannya sebagai manusia, yang menerima relaita hidup sebagaimana adanya dan memperkaya diri sendiri melalui penghayatan makna kehidupannya. Konseli yang melibatkan diri sepenuhnya dalam hidup secara otentik (commitment to life), menentukan apa yang sebaiknya dilakukannya pada saat tertentu dalam kehidupannya.
Pendekatan Kognitif
a. Analisis Transaksional
Analisis transaksional (Transactional Analysis) menekankan pola interaksi antara orang-orang, baik yang verbal maupun nonverbal (transactions). Diterapkan dalam konseling individual, tetapi bermanfaat dalam konseling kelompok, karena konselor mendapat kesempatan langsung mengamati pola interaksi antar seluruh anggota kelompok. Tujuannya supaya konseli menjadi sadar akan seluruh hambatan yang diciptakannya sendiri dalam berkomunikasi dengan orang lain, serta kemudian mengembangkan suatu pola interaksi social yang sesuai dengan situasi dan kondisi, dengan menempatkan diri dalam keadaan diri yang memungkinkan proses komunikasi yang sehat. Thomas A. Harris mendeskripsikan empat sikap hidup terhadap diri sendiri dan orang lain, yaitu :
(1) I am okay-you are okay: sikap hidup seseorang yang mampu mengatur dirinya dengan baik dan membina kontak social yang memuaskan.
(2) I am okau-you are not okay: sikap hidup seseorang yang melimpahkan kesukarannya sendiri pada orang lain dan menyalahkan orang lain. Dia bersikap sombong dan menjauhkan diri dari orang lain.
(3) I am not okay-you are okay: sikap hidup seseorang yang merasa depresif dan takberdaya, disbanding dengan orang lain. Dia cenderung mengasingkan diri atau melayani orang lain untuk mendapakatkan pengakuan dan simpati.
(4) I am not okay-you are not okay: sikap hidup seseorang yang menyerah saja, tidak mempunyai harapan dan membiarkan dirinya dibawa oleh pasang surut kehidupan.
b. Sistematika Carkhuff
Ketiga fase dalam proses konseling, yaitu eksplorasi, pemahaman diri dan bertindak, didahului suatu fase persiapan, di mana konseli melibatkan diri dalam proses konseling (involment)

Pendekatan Behavioristik
a. Reality Therapy
Reality Therapy ialah suatu standar atau patokan obyektif, yang menjadi kenyataan atau realitas yang harus diterima. Realitas atau kenyataan berwujud suatu realitas praktis, realitas social atau realitas moral. Disoroti pada tingkah lakunya yang nyata, dievaluasi menurut kesesuaian atau ketidaksesuaianya dengan realitas yang ada. Dengan demikian, proses konseling bagi konseli menjadi pengalaman belajar menilai diri sendiri dan di mana perlu menggantikan tingkah laku yang keliru dengan tingkah laku yang tepat. Sampai taraf tertentu, konselor berperan sebagai seorang guru yang mengajarkan tata cara bertindak secara tanggungjawab, memberika pujian bilamana konseli mulai bertindak secara tepat, dan mencela bila konseli tidak bertindak secara bertanggungjawab. Konselor menolak untuk membela diri bila konseli tidak tanggungjawab itu, apalagi menimpakan kesalahannya sendiri pada orang lain atau situasi dan kondisi.
b. Multimodal Counseling
Pendekatan konseling memadukan berbagai unsure (multi) dari beberapa pendekatan yang tersedia (modal counseling), sehingga tercipta sistematika baru. Selama proses konselling perhatian konselor terpusatkan pada tujuh factor atau komponen dalam pola kehidupan konseli, yaitu perilaku nyata (behavior), alam perasaan (affect), proses persepsi melalui alat indera (sensation), konsep diri dalam berbagai aspeknya (imagery), keyakinan dan nilai-nilai dasar sebagai dalam berpikir dan menentukan sikap (cognition), hubungan antarpribadi dengan orang yang dekat (interpersonal relationships), dan keadaan fisik serta kesehatan jasmani (biological functioning). Setiap komponen atau mode ditinjau dan dibahas untuk mengumpulkan data yang relevan.
2. Pola Spesialis, bahwa pelayanan bimbingan di institusi pendidikan harus ditangani oleh ahli- ahli bimbingan yang masing- masing berkemampuan khusus dalam cara pelayanan bimbingan dan konseling.
3. Pola Kurikuler, bahwa pelayanan bimbingan dan konseling di institusi pendidikan diusulkan dimasukkan dalam kurikulum pengajaran khusus dalam rangka suatu kursus bimbingan.
4. Pola Relasi- Relasi Manusia dan Kesehatan Mental, bahwa orang akan lebih hidup bahagia apabila dapat menjaga kesehatan mentalnya dan membina hubungan baik dengan orang lain.

C. Pendekatan atau Strategi Dasar
            Seorang ahli bernama Robert H. Mathewson (1962), berhasil membedakan tujuh pendekatan atau strategi dasar yang masing-masing pendekatan meupakan kontinum yang bipolar. Ketujuh strategi dasar itu adalah sebagai berikut :
1. Edukatif versus Direktif, yaitu satu sisi pelayanan bimbingan dipandang sebagai pengalaman belajar bagin siswa yang membantu mereka untuk menentukan sendiri pilihan-pilihannya.
2. Komulatif versus Pelayanan, yaitu satu sisi satu pelayanan bimbingan dilihat sebagai progam yang kontinyu dan bersambung-sambung.
3. Evaluasi diri versus oleh orang lain, yaitu satu sisi satu pelayanan bimbingan dirancang untuk membantu siswa menemukan diri dan evaluasi diri atas prakarsa sendiri.
4. Kebutuhan Individu versus Kebutuhan Lingkungan, yaitu disisi satu pelayanan bimbingan menekankan supaya kebutuhan-kebutuhan masing-masing siswa dipenuhi.
5. Penilaian Subyektif versus Penilaian Obyektif, yaitu disisi satu pelayanan bimbingan diarahkan ke penghayatan dan penafsiran siswa sendiri terhadap dirinya sendiri serta lingkungan hidupnya, disisi yang lain menitikberatkan pengumpulan data siswa dari sumber di luar siswa sendiri.
6. Komprehensif versus Berfokus pada satu aspek atau satu bidang saja, yaitu di satu sisi pelayanan bimbingan diprogamkan sedemikian rupa sehingga semua tantangan dan permasalahan di berbagai bidang kehidupan siswa tercakup di dalamnya.
7. Koordinatif versus Spesialistik, yaitu di satu sisi ditangani oleh sejumlah tenaga melakukan kerjasama secara koordinatif dalam memberikan bantuan dan berkedudukan sama dan harus bekerjasama erat dalam mendeskripsikan ciri-ciri suatu program bimbingan yang dilaksanakan pada institusi pendidikan, di sisi yang lain ditangani secara spesifik berdasarkan keahlian.

D. Pola Umum 17
Pola dasar bimbingan dan konseling yang saat ini dilaksanakan di lingkungan pendidikan tingkat SMP dan SMA digambarkan dalam matriks di bawah ini:
No
Pengetahuan Wawasan  BK
Bidang Bimbingan
Jenis Layanan
Kegiatan Pendukung
1.
Konsep Dasar BK
Bimb. Pribadi
Layanan Orientasi
Instrumentasi
2.
Fungsi BK
Bimb. Sosial
Layanan Informasi
Himpunan Data
3.
Landasan BK
Bimb. Belajar
Layanan Penempatan
Konferensi Kasus
4.
Asas Bk
Bimb. Karier
Layanan Pembelajaran
Kunjungan Rumah
5.
Prinsip-prinsip BK

Layanan Konseling Perorangan
Alih Tangan
6.


Layanan Bimbingan Kelompok

7.


Layanan Konseling Kelompok



BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
            Program Bimbingan dan Konseling disekolah disusun dan diselenggarakan atas dasar kerangka berpikir dan pola dasar pelaksanaan tertentu.Secara teoritis ada berbagai model Bimbingan mulai dari Frank Parsons sampai Julius Menacker. Dimana disitu terdapat berbagai variasi yang tentu memiliki model tersendiri dalam melayani dan membantu kebutuhan siswa.jadi dapat dikatakan bimbingan itu bersifat luwes atau fleksibel dan tidak kaku sebab ada spesifikasinya dalam menaungi masalah atau bidang tertentu. Model-model bimbingan dan konseling dan pola dasar bimbingan dipakai sebagai pedoman dan pegangan dalam pelayanan bimbingan di sekolah-sekolah.
Sedangkan untuk pola – pola bimbingan menurut analisis Edward C. glanz, (1964) :
1. Pola generalis
2. Pola Spesialis
3. Pola Kurikuler
4. Pola Relasi-relasi Manusia dan Kesehatan Mental

Pendekatan atau Strategi dasar
• Edukatif versus Direktif
• Kumulatif versus Pelayanan
• Evaluasi diri versus orang lain
• Kebutuhan Individu versus Kebutuhan Lingkungan
• Penilaian Subyektif versus penilaian Obyektif
• Komperehensif versus berfokus pada satu aspek atau satu bidang saja
• Koordinatif versus Spesialistik

SARAN
            Pola dan pelayanan bimbingan di sekolah sekolah memeliki peran yang sangat penting guna membina kepribadian mental siswa oleh karena itu kita sebagai calon pendidik hendaklah memahami pola dan pelayanan dari bimbingan dan konseling itu sendiri sebab nantinya kita jangan sampai salah menerapkan pola atau strategi dasar yang digunakan dalam bimbingan dan konseling. Sebab masalah, perkembangan serta karateristik seseorang itu berbeda- beda.
            Mahasiswa sebagai calon pendidik harus benar-benar mengerti, memahami dan mengaplikasikan dengan baik pembahasan tentang model-model pelayanan bimbingan dan konseling, pola dasar bimbingan, pola-pola bimbingan, dan pendekatan atau strategi dasar pada bimbingan dan konseling. Dengan demikian, mahasiswa nantinya pada saat menjadi pendidik akan dapat menciptakan generasi muda dengan kebenaran dalam sikap dan perilaku yang juga akan berdampak bagi negara yaitu negara Indonesia mempunyai sumber daya manusia yang kompetitif di dunia internasional dan memajukan Indonesia dalam berbagai bidang. Mahasiswa sebagai calon pendidik harus benar-benar mengerti, memahami dan mengaplikasikan dengan baik pembahasan tentang model-model pelayanan bimbingan dan konseling, pola dasar bimbingan, pola-pola bimbingan, dan pendekatan atau strategi dasar pada bimbingan dan konseling. Dengan demikian, mahasiswa nantinya pada saat menjadi pendidik akan dapat menciptakan generasi muda dengan kebenaran dalam sikap dan perilaku yang juga akan berdampak bagi negara yaitu negara Indonesia mempunyai sumber daya manusia yang kompetitif di dunia internasional dan memajukan Indonesia dalam berbagai bidang.

DAFTAR PUSTAKA
Mugiarso, Heru. 2009. Bimbingan Konseling. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.